aditive_manufacturing

Tantangan Dalam Mengembangkan Usaha Pencetakan 3 Dimensi

Prospek untuk mengembangkan usaha pencetakan 3D saat ini dipercaya berbagai pihak sangat positif. Dari survey yang dilakukan oleh jabil.com pada tahun 2017, didapatkan gambaran bahwa terdapat adanya trend positif pada lebih dari 300 merek produk yang beruhungan dengan dengan manufaktur aditif. Dan dua tahun kemudian, hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan manufaktur aditif tumbuh lebih baik lagi. Secara garis besar berikut hasil survey yang didapatkan :

  • 86 persen mengharapkan penggunaan pencetakan 3D mereka menjadi lebih dari dua kali lipat selama beberapa tahun ke depan (65 persen pada 2017).
  • 59 persen percaya manufaktur aditif telah mengubah cara mereka berpikir dan beroperasi (43 persen pada 2017).
  • 79 persen percaya mereka akan lebih dari menggandakan penggunaan pencetakan 3D mereka untuk bagian produksi selama beberapa tahun ke depan (56 persen pada 2017)

Namun dibalik semakin matangnya industri di bidang manufaktur aditif (pencetakan 3D), terdapat juga tantangan yang memang sudah teridentifikasi sebelumnya, yaitu cost (biaya proses pencetakan 3D). Seperti dijelaskan lebih detail pada situs Auburn Hills Jabil, penggunaan teknologi pencetakan 3 dimensi untuk peralatan dan perlengkapan telah menyebabkan pengurangan waktu 80 persen (dari bulan ke minggu) dan pengurangan hingga 30 persen dalam biaya peralatan.

Tantangan Dalam Usaha Pencetakan 3D

Dalam survey Jabil pada tahun 2017, didapatkan informasi dari responden bahwa tantangan manufaktur aditif terbesar mereka terkait dengan biaya (pra-dan pasca-pemrosesan, peralatan sistem dan bahan), sedangkan pada tahun 2019 responden menemukan biaya bahan/material menjadi yang paling menantang. Tantangan manufaktur aditif baru-baru ini berpusat di sekitar masalah bahan/material pembuat object 3 dimensi. Seperti terlihat di tabel dibawah :

Source : www.jabil.com

Menurut survei Jabil, polimer adalah material/bahan cetak 3D yang paling umum digunakan saat ini, tetapi responden kemudian lebih tertarik untuk menggunakan logam. Saat ini, pencetakan 3D paling cocok untuk membuat komponen-komponen yang kompleks dan memiliki nilai material yang mahal dan sulit diproduksi melalui metode tradisional. Tetapi seiring kemajuan teknologi yang mampu meningkatkan kecepatan mesin produksi dan menurunkan biaya material , penggunaan logam manufaktur aditif akan lebih mudah diakses oleh merek-merek produk tertentu.

Kesimpulan

Perbandingan hasil survei yang dilakukan pada tahun 2017 dan 2019 terhadap respndon yang berhubungan dengan penggunaan teknologi pencetakan 3D (aditive manufacturing) yang dilakukan oleh jabil adalah sebagai berikut :

  • Dunia usaha pencetakan 3 dimensi akan semakin meningkat, terlihat dari trend optimisme repsonden (kalangan dunia usaha) di bidang ini.
  • Dalam rentang waktu 2 tahun antara 2017 dan 2019 telah terjadi pergeseran tantangan yang dihadapi oleh kalangan usaha pencetakan 3 dimensi.
  • Biaya (cost) terbesar yang semula dihabiskan untuk proses pre dan post produksi menjadi biaya material (bahan baku) dalam usaha aditif manutfaktur.
  • Penggunaan teknologi terkini dan alternatif materilal sebagai bahan baku pencetakan 3 dimensi dipercaya akan menjadi salah satu jawaban dari tantangan yang dihadapi.

Source : www.jabil.com

Bagikan melalui:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *